PENGARUH PARAMETER PROSES PELAPISAN NIKEL PADA KEKERASAN DAN KUALITAS PERMUKAAN DEPOSIT MENGGUNAKAN LARUTAN CITRATE 17 gram/Liter

PENGARUH PARAMETER PROSES PELAPISAN NIKEL PADA KEKERASAN DAN KUALITAS PERMUKAAN DEPOSIT MENGGUNAKAN LARUTAN CITRATE 17 gram/Liter
Suhdi,
Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik , Universitas Bangka Belitung (UBB),
Aditianto Ramelan
Program Studi Teknik Material, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, Institut Teknologi Bandung (ITB)
Korespodensi Penulis
Email : suhdi@ubb.ac.id
Telepon : 08194837077
Email : ramelan@material.itb.ac.id
Telepon : +62-22-2502265

ABSTRAK
Proses pelapisan nikel dengan menggunakan arus listrik (electroplating) merupakan salah satu pelapisan yang paling banyak digunakan pada industri sebagai hasil akhir atau lapisan dasar untuk proses selanjutnya. Watts bath adalah larutan yang terkenal untuk proses pelapisan nikel yang terdiri dari nikel sulfat, nikel khlorid, dan asam borat. Pada tahun 2004 Tadashi Doi and Kazunari Mizumoto dari Tokyo Metropolitan Industrial Technology Research Institute mengembangkan larutan pelapisan nikel (“citrate bath”), menggunakan asam sitrat menggantikan asam borat pada Watts bath. Seperti yang telah diketahui bahwa kualitas pelapisan nikel dipengaruhi oleh beberapa parameter proses pelapisan, antara lain; rapat arus, temperatur, pH dan waktu pelapisan. Pada penelitian mendapatkan kualitas permukaan dan kekerasan lapisan nikel yang optimal. Kualitas lapisan pada penelitian ini dihasilkan dengan menvariasikan parameter waktu pelapisan (5, 10, 15 menit), rapat arus (10, 20,30 dan 40 A/dm2), pH (2,3,4,5,6), temperatur (400C, 500C, 600C,700C,800C) dan menggunakan larutan citrate. Pada penelitian ini, deposit nikel diukur kekerasanya, dan dianalisa menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM), Energy Dispersive Spectrometry (EDS) dan X-ray diffraction (XRD). Dari hasil pengamatan telah diperoleh kualitas permukan dan kekerasan lapisan nikel yang optimal didapatkan dengan rapat arus 30 A/dm2, pH 4, temperatur 700C selama 15 menit. Kekerasan yang di capai adalah 617±27 VHN. Kenaikan kekerasan diperkirakan karena terbentukannya nickel hydride yang terdispersi pada matrik nikel pada saat diffusi hydrogen, adanya distorsi kisi, tegangan dalam dan pengecilan ukuran kristalit yang diindikasikan dengan adanya peak broadening pada hasil X-ray Diffraction untuk nikel hasil pelapisan dibandingkan dengan hasil pengecoran. Besarnya tegangan dalam yang terjadi mencapai 97,32–110,30 N/mm2dan ukuran kristalit nikel yang terbentuk hasil pengecoran adalah 32 nm, sedangkan hasil pelapisan yang dilakukan 15 nm.

Kata kunci: citrate bath, tegangan dalam, nickel hydride. X-ray diffraction

Posted in JURNAL | Leave a comment

Universitas Negeri Bangka Belitung Dukung KPP

Universitas Negeri Bangka Belitung Dukung KPPU

Pangkalpinang – Selasa (9/12), Kantor Perwakilan Daerah (KPD) Batam melakukan audiensi dengan Universitas Bangka Belitung (UBB), bertempat di kantor Rektorat Universitas Bangka Belitung, Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pertemuan tersebut selain bertujuan untuk mensosialisasikan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat  (UU No. 5 Tahun 1999) di kalangan akademisi, juga bertujuan untuk mempererat kerja sama antara KPPU dengan Universitas Bangka Belitung.

Pada pertemuan tersebut, Lukman Sungkar selaku Kepala KPD Batam menyampaikan tugas serta wewenang KPPU sebagai pengemban amanat UU No. 5 Tahun 1999, dimana tugas pokok KPPU meliputi penegakan hukum persaingan usaha dan pemberian saran kebijakan kepada Pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Lukman Sungkar juga menyampaikan bahwa pada November lalu, KPPU KPD Batam bekerja sama dengan Fakultas Hukum UBB menyelenggarakan kegiatan kuliah umum bagi mahasiswa fakultas hukum. Lukman Sungkar menambahkan, “Diharapkan hubungan baik antara KPPU dan Universitas Bangka Belitung senantiasa terjalin dengan baik dan dapat bekerja sama dalam mensosialisasikan UU No. 5 Tahun 1999, serta mengimplementasikan nilai-nilai persaingan usaha sehat dimulai dari kalangan kampus”

Pihak universitas, yang diwakili oleh Suhdi, Wakil Rektor III menyambut baik pertemuan yang digagas oleh KPPU KPD Batam. Suhdi menyampaikan, pihak UBB sangat terbuka bagi KPPU untuk melaksanakan kegiatan di Bangka. “Diharapkan kedepannya kerja sama antara KPPU dengan Universitas Bangka Belitung dapat dituangkan dalam bentuk MOU (Memorandum of Understanding), hal tersebut selain menjadi payung hukum atas kerja sama di antara kedua belah pihak, akan berkaitan juga dengan akreditasi kampus”, jelas Suhdi. Pihaknya juga menyampaikan bahwa pihak universitas sebagai akademisi senantiasa menjaga netralitas di masyarakat, tidak terdapat keberpihakan baik secara politik maupun bisnis, dengan begitu pihaknya secara prinsip sejalan dengan KPPU sebagai pengemban amanat UU No. 5 Tahun 1999

sumber :

Diunggah oleh: nanang, Dec 10, 2014
kppu logo
Posted in News | Leave a comment

Mahasiswa UBB Diajari Praktisi Tambang PT Timah

Mahasiswa UBB Diajari Praktisi Tambang PT Timah

Jumat, 9 Mei 2014 14:53 WIB
Mahasiswa UBB Diajari Praktisi Tambang PT Timah

BANGKAPOS.COM, BANGKA — Mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Teknik Tambang mendapat pengetahuan langsung dari praktisi PT Timah (Persero) Tbk.

Mahasiswa diberikan pengetahuan aplikasi pertambangan secara riil dan nyata. Sehingga mahasiswa bisa mengkomper pengetahuan dengan apa yang ada di lapangan.

“Dalam seminar ini merupakan sesi pembuka wawasan mahasiswa, untuk mengetahui dunia pertambangan sesungguhnya,” ujar Suhdi, Dekan Fakultas Teknik Universitas Bangka Belitung ditemui Bangkapos.com, Jumat (9/5).

Dijelaskan Suhdi, mahasiswa tidak hanya menerima materi tentang dunia pertambangan di dalam kelas.

“Memang secara teoritis dan praktis satu sama lainnya saling melengkapi,” katanya.

Harapan Suhdi dengan kegiatan seminar pengetahuan pertambangan bagi mahasiswa akan bertambah.

Sumber :

Laporan Wartawan Bangka Pos, Agus Nuryadhyn

 

Posted in News | Leave a comment

Workshop Pengelolaan Sumberdaya Kolong

Workshop Pengelolaan Sumberdaya Kolong. UBB Coba Masukan Kolong ke Kurikulum
Rabu, 30 November 2011 02:25 WIB 
Workshop Pengelolaan Sumberdaya Kolong. UBB Coba Masukan Kolong ke Kurikulum
PANGKALPINANG – Workshop pengelolaan smuberdaya kolong yang digelarkan oleh jurusan Tekhnik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Bangka Belitung (FT UBB), Selasa (29/11) kemarin bertempat di hotel Grand Mutiara Pangkalpinang membahas pemanfaatan kolong eks pertambangan di Bangka Belitung (Babel) yang dibahas bersama oleh sebagian mahasiswa, dinas terkait serta PT. Timah dan PT Kobatin.  Workshop yang berlangsung selama satu hari tersebut, turut dihadiri juga oleh guru besar dari Universitas Gadja Mada (UGM) Djoko Legono serta Dekan FT UBB Suhdi dan narasumber dari UBB Fadhillah sobri, Ichwan Azwardi dari PT Timah (persero) Tbk.Suhdi menuturkan, kolong eks tambang yang ada di Babel dapat merupakan salah satu kearifan lokal untuk dijadikan sebagai salah satu program yang harus dikembangkan. “kondisi kepulauan kita yang banyak kolong itu sama sekali belum diperhatikan atau kelolah, sehingga kita coba fokus dengan harapan dimasa yang akan datang kita bisa menggali apa manfaat kolong yang ada di dekat kita, mau kita apakan kondisi daerah atau lingkungan yang seperti ini. Babel tidak lepas daerah eks tambang, dimana sebenarnya masih banyak potensi dari itu yang masih dapat dikembangkan lagi”, jelasnya.Oleh sebab itu, tambahnya, jurusan tekhnik sipil FT UBB mencoba memasukan sumberdaya kolong itu kedalam kurikulum yang sekarang telah dipelajarkan hari ini dan seterusnya menjadi salah satu mata kuliah yang akan kita kembangkan. “Kita harapkan dengan kondisi yang ada atau dengan kearifan lokal yang ada ini diusahakan untuk membuka mata kita semua supaya kondisi saat ini mempunyai nilai tambah yang dapat digunakan sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan di masyarakat, khususnya di Babel”, ungkap Suhdi.(Ian)

sumber :

Logo RadarBangkaOnline

 

 

Posted in News | Leave a comment

Pengukuran Waktu Kerja Produksi

Pengukuran Waktu

Dalam situasi pengukuran kerja aktual, penting untuk membandingkan citra mental “kinerja normal” dengan prestasi yang diobservasi . Peringkat ini ikut dimasukkan dalam perhitungan standar kinerja sebagai satu faktor dan standar akhirnya tidak mungkin lebih akurat daripada pemeringkatannya.

Sistem pengukuran kerja praktis mencakup :

1. Pengukuran waktu aktual yang diobservasi

2. Penyesuaian waktu yang diobservasi untuk memperoleh “waktu normal” melalui pemeringkatan kerja.

Waktu baku adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan atau menyelesaikan suatu aktivitas atau pekerjaan oleh tenaga kerja yang wajar pada situasi dan kondisi yang normal sehingga didapatkan waktu baku atau waktu standar secara umum.

Ada dua cara untuk menentukan waktu baku antara lain :

a. Cara langsung

Cara langsung adalah suatu cara untuk menentukan waktu baku di mana pengamatan data-data yang diperlukan langsung dilakukan di tempat berlangsungnya suatu aktivitas atau pekerjaan yang akan ditemukan waktu bakunya.

Cara langsung dibagi menjadi dua, yaitu :

Pengukuran jam henti

Pengukuran sampling kerja (pekerjaan)

a. Cara tak langsung

Cara tak langsung adalah suatu cara untuk menentukan waktu baku yang data-datanya tidak langsung dilakukan di tempat berlangsungnya aktivitas/perkerjaan tetapi cukup menggunakan data-data masa lampau yang telah dibukukan untuk pekerjaan-pekerjaan yang sejenis.

Cara ini dapat dibagi dua cara, yaitu :

Pengukuran waktu data waktu baku

Pengukuran data waktu gerakan

Pengukuran waktu jam henti (Stop Watch)

Pendekatan yang paling umum untuk pengukuran kerja yang digunakan sekarang ini meliputi penilaian waktu stop watch dan pengukuran kinerja operasi secara simultan untuk menentukan waktu normal. Piranti pengukur waktu elektronik yang sekarang sering digunakan adalah stop watch konvensional.

Pengukuran waktu jam henti (stop watch) adalah suatu cara untuk menentukan waktu baku yang pengamatannya langsung dilakukan di tempat berlangsungnya suatu aktivitas atau berlangsungnya suatu pekerjaan dengan menggunakan alat utamanya adalah jam henti (stop watch) yaitu dengan mengamati saat mulainya pekerjaan itu hingga berakhirnya pekerjaan/aktivitas yang meliputi : waktu setting, waktu operasi dan waktu inspeksi.

Untuk mendapatkan hasil yang baik, yaitu yang dapat dipertanggungjawabkan maka tidaklah cukup sekedar melakukan beberapa kali pengukuran dengan menggunakan jam henti. Banyak faktor yang harus diperhatikan agar akhirnya dapat diperoleh waktu yang pantas untuk jumlah pengukuran dan lain-lain. Langkah-langkah sebelum melakukan kegiatan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Penetapan tujuan pengukuran

2. Melakukan penelitian pendahuluan

3. Memilih operator

4. Melatih Operator

5. Mengurai pekerjaan atas elemen pekerjaan

6. Menyiapkan alat-alat pengukuran.

Perhitungan waktu baku

Cara untuk mendapatkan waktu baku dari data yang terkumpul adalah sebagai berikut:

a. Hitung siklus rata-rata dengan rumus ;

b. Hitung Waktu Normal

Wn = Ws x p

P adalah faktor penyesuaian

1 siklus rata-rata normal, p1 untuk bekerjanya terlalu lambat atau sebaliknya.

c. Hitung waktu baku

Wb = Wn = ( Wn x 1 )

Dimana 1 adalah kelonggaran atau allowance yang diberikan kepada pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya disamping waktu normal.

Penyesuaian dan kelonggaran

Penyesuaian dilakukan untuk mengantisipasi ketidakwajaran yang dapat terjadi, misalnya bekerja tanpa kesungguhan, sangat cepat atau menjumpai kesulitan-kesulitan karena kondisi ruangan yang sempit atau buruk. Untuk melakukan penyesuaian keterampilan dibagi menjadi enam kelas dengan ciri-ciri setiap kelas seperti berikut:

Tabel 2.1. Penyesuaian Menurut Westinghouse

Faktor

Kelas

Lambang

Penyesuaian

Keterampilan

Superskill

Exellent

A1

A2

B1

+ 0,15

+ 0,13

+ 0,11

Faktor

Kelas

Lambang

Penyesuaian

Keterampilan

Good

Average

Fair

Poor

B2

C1

C2

D

E1

E2

F1

F2

+ 0,08

+ 0,06

+ 0,03

0,00

– 0,05

– 0,10

– 0,16

– 0,22

Usaha

Superskill

Exellent

Good

Average

Fair

Poor

A1

A2

B1

B2

C1

C2

D

E1

E2

F1

F2

+ 0,13

+ 0,12

+ 0,10

+ 0,08

+ 0,05

+ 0,02

0,00

– 0,04

– 0,08

– 0,12

– 0,17

Kondisi

Superskill

Exellent

Good

Average

Fair

Poor

A

B

C

D

E

F

+ 0,06

+ 0,04

+ 0,02

0,00

– 0,03

– 0,07

Konsistensi

Superskill

Exellent

Good

Average

Fair

Poor

A

B

C

D

E

F

+ 0,04

+ 0,03

+ 0,01

0,00

– 0,02

– 0,04

Kelonggaran diberikan untuk tiga hal yaitu untuk kebutuhan pribadi menghilangkan rasa fatique dan hambatan-hambatan yang tidak dapat dihindarkan. Ketiga hal ini merupakan hal yang secara nyata dibutuhkan oleh pekerja dan selama pengukuran tidak diamati, diukur, dicatat, ataupun dihitung. Karenanya sesuai pengukuran dan setelah mendapatkan waktu normal perlu ditambahkan :

Kelonggaran untuk waktu pribadi

Kelonggaran untuk menghilangkan rasa fatique

Kelonggaran untuk hambatan-hambatan yang tak terhindarkan.

Posted in Manufacture | Leave a comment

Teori Dasar Perakitan

1.1 Pengertian & Prinsip Perakitan

Perakitan adalah suatu proses penyusunan dan penyatuan beberapa bagian komponen menjadi suatu alat atau mesin yang mempunyai fungsi tertentu. Pekerjaan perakitan dimulai bila obyek sudah siap untuk dipasang dan berakhir bila obyek tersebut telah bergabung secara sempurna. Perakitan juga dapat diartikan penggabungan antara bagian yang satu terhadap bagian yang lain atau pasangannya.

Pada prinsipnya perakitan dalam proses manufaktur terdiri dari pasangan semua bagian-bagian komponen menjadi suatu produk, proses pengencangan, proses inspeksi dan pengujian fungsional, pemberian nama atau label, pemisahan hasil perakitan yang baik dan hasil perakitan yang buruk, serta pengepakan dan penyiapan untuk pemakaian akhir. Perakitan merupakan proses khusus bila dibandingkan dengan proses manufaktur lainnya, misalnya proses permesinan ( frais, bubut, bor, dan gerinda ) dan pengelasan yang sebagian pelaksanaannya hanya meliputi satu proses saja. Sementara dalam perakitan bisa meliputi berbagai proses manufaktur.

1.2 Metode perakitan.

Dalam produksi massal, proses perakitan dapat dilakukan dengan cara otomatis, misalnya proses pengikatan, pengelingan, pengelasan, penyekrupan, dan lain-lain dalam urutan rangkaian proses produksi. Hal itu dilakukan untuk mendapatkan hasil pada setiap produk dengan bentuk yang standar.

Dalam perakitan terdapat beberapa metode yang dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan. Metode-metode tersebut adalah :

a. Metode perakitan yang dapat ditukar tukar.

Pada metode ini, bagian-bagian yang akan dirakit dapat ditukarkan satu sama lain ( interchangeable ), karena bagian tersebut dibuat oleh suatu pabrik secara massal dan sudah distandarkan baik menurut ISO, DIN, JIS, dan lain sebagainya. Keuntungan bila kita menggunakan bagian atau komponen yang telah distandarkan adalah waktu perakitan komponen yang lebih cepat dan dalam penggantian komponen yang rusak dapat diganti dengan komponen yang sejenis yang ada di pasaran. Akan tetapi tetap mempunyai kerugian yaitu kita harus membeli komponen tersebut dengan harga yang relatif lebih mahal.

b. Perakitan dengan pemilihan.

Pada metode perakitan dengan metode pemilihan, komponen-komponennya juga dihasilkan dengan produksi massal yang pengukuran-pengukurannya tersendiri menurut batasan-batasan ukuran.

c. Perakitan secara individual.

Perakitan secara individual dalam pengerjaannya tidak dapat kita pisahkan antara pasangan satu dengan pasangannya. karena dalam pengerjaannya harus berurutan tergantung bagian yang sebelumnya. Salah satu komponen yang berpasangan tersebut kita selesaikan terlebih dahulu, kemudian pasangan lainnya menyusul dengan ukuran patokan yang diambil dari komponen yang pertama.

1.3 Macam dan jenis perakitan.

Ada beberapa macam jenis perakitan yang sering digunakan di dunia industri, hal ini tergantung pada pekerjaan yang akan dilakukan. Biasanya faktor bentuk dan jumlah produk yang akan dihasilkan sangat menentukan. Pada umumnya ada dua macam jenis perakitan yaitu :

Perakitan Manual yaitu; perakitan yang sebagian besar proses dikerjakan secara konvensional atau menggunakan  tenaga manusia dengan peralatan yang sederhana tanpa alat-alat bantu yang spesifik atau khusus.

Perakitan otomatis yaitu; perakitan yang dikerjakan dengan sistem otomatis seperti otomasi, elektronik, mekanik, gabungan mekanik dan elektronik (mekatronik), dan membutuhkan alat bantu yang lebih khusus.

Sedangkan untuk jenis perakitan dapat dibedakan menurut jenis produk yang akan dilakukan perakitan yaitu;

Produk tunggal Jenis perakitan tunggal yaitu perakitan dengan produk hanya satu jenis saja

Produk seri Jenis perakitan produk seri adalah bila perakitan dilakukan dalam jumlah massal dalam bentuk dan ukuran yang sama. Contohnya proses perakitan produk elektronik, perakitan mobil, perakitan motor dan lain-lain.

Posted in Manufacture | 6 Comments

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 3 Comments
Design a site like this with WordPress.com
Get started